Selasa, 08 Januari 2013

Mulai Menulis (Lagi)


Suasana telah berangsur sepi saat aku memulai tulisan ini. Detik pergantian tahun telah lewat dan dentuman perayaannya telah senyap. Hanya sesekali suara letup kembang api terdengar di kejauhan. Aku ingin beranjak tidur, tetapi ada sebuah ganjalan yang memaksaku bangkit dan membuka laptop: menulis. Ditemani Final Countdown-nya Europe benakku mulai menghitung kegelisahan yang mengganjal kelopak mata.

Sudah bertahun-tahun aku tak peduli pada perayaan pergantian tahun. Termasuk tahun ini. Dan mungkin juga tahun-tahun mendatang. Namun aku berusaha mengurangi kenyinyiranku atas perayaan ini, walaupun aku tetap tak merasakan perbedaan apa-apa pada saat orang berhitung mundur, bersorak-sorai dan meniup terompet.

Mungkin hidup memang terlampau monoton dan kering, sehingga manusia butuh momentum semacam perayaan tahun baru untuk melepaskan diri dari ketegangan dan ketidakasyikan. Manusia butuh momentum untuk berhenti sejenak dari perburuan dan pelariannya. Dan kurasa ini pun menjadi sebuah titik yang bisa kujadikan pijakan untuk memulai sesuatu yang “baru.”

Aku ingin menulis lagi. Kurasa bulan Mei lalu aku sebenarnya sudah mendeklarasikan pada diriku sendiri untuk menulis. Namun entah mengapa akhirnya tak terealisasi. Dan aku pun merasa banyak ide dan pemahaman yang terbuang dan tak berkembang karena aku tidak menuangkannya ke dalam tulisan. Pemahaman tentang hidup, tentang kebahagiaan, tentang Tuhan, tentang cinta dan lain sebagainya. Tak ada satu pun yang aku tulis.

Aku pun tak menulis puisi. Entah mengapa aku mengalami stagnasi dan kejenuhan. Padahal waktu luang cukup banyak. Aku ingin tahun ini menjadi tahun menulis. Menulis apa saja. Kolom, catatan, puisi, cerpen atau apa saja yang bisa terbaca.

Mengakhiri tulisan ini entah mengapa aku terngiang lagu Europe… Tomorrow….

Jakarta, 1 Januari 2013