Suasana telah berangsur sepi
saat aku memulai tulisan ini. Detik pergantian tahun telah lewat dan dentuman
perayaannya telah senyap. Hanya sesekali suara letup kembang api terdengar di
kejauhan. Aku ingin beranjak tidur, tetapi ada sebuah ganjalan yang memaksaku
bangkit dan membuka laptop: menulis. Ditemani Final Countdown-nya Europe
benakku mulai menghitung kegelisahan yang mengganjal kelopak mata.
Sudah bertahun-tahun aku tak
peduli pada perayaan pergantian tahun. Termasuk tahun ini. Dan mungkin juga
tahun-tahun mendatang. Namun aku berusaha mengurangi kenyinyiranku atas
perayaan ini, walaupun aku tetap tak merasakan perbedaan apa-apa pada saat
orang berhitung mundur, bersorak-sorai dan meniup terompet.
Mungkin hidup memang terlampau
monoton dan kering, sehingga manusia butuh momentum semacam perayaan tahun baru
untuk melepaskan diri dari ketegangan dan ketidakasyikan. Manusia butuh
momentum untuk berhenti sejenak dari perburuan dan pelariannya. Dan kurasa ini
pun menjadi sebuah titik yang bisa kujadikan pijakan untuk memulai sesuatu yang
“baru.”
Aku ingin menulis lagi. Kurasa
bulan Mei lalu aku sebenarnya sudah mendeklarasikan pada diriku sendiri untuk
menulis. Namun entah mengapa akhirnya tak terealisasi. Dan aku pun merasa
banyak ide dan pemahaman yang terbuang dan tak berkembang karena aku tidak
menuangkannya ke dalam tulisan. Pemahaman tentang hidup, tentang kebahagiaan,
tentang Tuhan, tentang cinta dan lain sebagainya. Tak ada satu pun yang aku
tulis.
Aku pun tak menulis puisi.
Entah mengapa aku mengalami stagnasi dan kejenuhan. Padahal waktu luang cukup
banyak. Aku ingin tahun ini menjadi tahun menulis. Menulis apa saja. Kolom,
catatan, puisi, cerpen atau apa saja yang bisa terbaca.
Mengakhiri tulisan ini entah
mengapa aku terngiang lagu Europe… Tomorrow….
Jakarta, 1 Januari 2013